Senin, 19 April 2010

Selamatkan Islam

SELAMATKAN ISLAM

 

Oleh : ary El Wanasaby

 

Kamis dini hari kemarin terjadi pertandingan seru final piala Eropa antara Barcelona dengan Manchester United yang pada akhirnya dimenangkan pihak Barcelona dengan skor 2 - 0. Malam itu semua orang yang mengaku dirinya bola mania pasti tidak melewatkannya. Bahkan mereka yang tadinya tidak suka pun ikut nimbrung lantaran penasaran dan terpengaruh oleh teman-temannya. Mereka (bola mania) rela begadang sampai pagi dan dengan begitu semangatnya memberi dukungan pada tim kesayangannya yang tengah berlaga di lapangan hijau. Hiruk pikuk penonton pun terdengar meriah walau tanpa disadari sikap mereka telah membuat gaduh dan menggangu hak ketenangan orang lain.

Fenomena di atas merupakan hal wajar terjadi pada masyarakat Indonesia. Virus bola memang telah merasuki semua kalangan tanpa terkecuali, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan, rakyat biasa bahkan sampai para petinggi dalam pemerintahan pun menyukai permainan dengan satu bola yang diperebutkan oleh dua kesebelasan di lapangan hijau, sepak bola. Mereka yang gandrung sepak bola tidak segan untuk mengorbankan apa saja, entah itu harta untuk taruhan, kesehatan, atau waktu mereka untuk begadang, demi mendukung tim kesayanganya untuk menjadi juara.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bisakah sikap semangat dan rela berkorban seperti itu dapat diterapkan tidak hanya pada dukungan terhadap tim kesayangan tetapi juga agama samawi yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yaitu dinul Islam? Bisakah kita mengorbankan jiwa dan raga kita sepenuhnya untuk Islam? Bisakah semangat menyebarkan Islam demi tetap tegaknya panji Islam di muka bumi ini kita kobarkan?

Kalau boleh kita analogikan kondisi Islam saat ini ibarat buih di tengah lautan. Ia bisa dengan mudahnya terombang ambing oleh arus globalisasi dan modernisasi yang semakin gencar mengikis sendi-sendi ajaran Islam. Banyak serangan dari luar dengan berbagai cara, baik secara langsung maupun tidak langsung mencoba menggulingkan dan menghancurkan keberadaan Islam. Islam ibarat makanan di atas meja yang dari segala arah semua pihak ingin menyerbunya. Jika kondisi semacam ini tetap kita biarkan, bukan suatu hal yang mustahil jika suatu saat Islam akan lenyap dari muka bumi dan hanya tinggal namanya saja yang tertulis dalam sejarah. Sungguh ironis jika hal ini benar-benar terjadi.

Selain itu masalah intern mengenai interpretasi nilai-nilai ajaran yang beraneka ragam secara tidak langsung juga ikut andil dalam menciptakan kerapuhan dan perpecahan terhadap benteng persatuan umat Islam. Memang terjadinya perbedaan pendapat dalam setiap masalah merupakan suatu hal yang wajar. Sayangnya, dalam hal perbedaan pendapat itu mereka sering terjebak pada masalah-masalah yang sifatnya tidak substantif, hanya kulit luar Islam saja. Sementara nilai-nilai ajaran Islam yang substantif seolah kurang mendapat perhatian sehingga akhirnya hilang karena tertutup oleh paradigma dan pemahaman yang keliru. Misalnya dalam hal sholat shubuh, sampai saat ini masalah qunut masih diperdebatkan. Padahal menurut hemat saya hal itu tidak perlu lagi diperdebatkan, masih banyak masalah lain yang perlu segera kita selesaikan. Hasan al Banna mengatakan bahwa pekerjaan kita itu lebih banyak dari pada waktu yang tersedia.

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang harus memperjuangkan Islam? Siapa yang harus menghidupkan kembali Islam yang tengah mati suri? Ini adalah suatu pertanyaan retoris yang seharusnya tidak perlu diutarakan. Tetapi kadang masih diperlukan karena pikiran kita mungkin sudah terlalu jauh mencoba menggapai dan memikirkan sesuatu yang tinggi melebihi batas kemampuan akal manusia sehingga pertanyaan sederhana seperti ini pun terlupakan dan perlu diutarakan.

Setiap muslim di dunia ini wajib memperjuangkan dan mempertahankan Islam sebagai agamanya. Sebenarnya kurang pantas jika dikatakan kewajiban, semangat memperjuangkan Islam seharusnya tumbuh dari kesadaran seorang muslim sendiri. Kita yang kesehariannya selalu berkecimpung dengan nilai-nilai ajaran Islam tentunya memiliki keterikatan kuat dengan Islam. Sehingga dari situ timbullah rasa memiliki terhadap Islam itu sendiri. Oleh karena itu kita seharusnya marah jika harga diri Islam diinjak-injak. Kita seharusnya tidak tinggal diam jika Islam dikambing hitamkan oleh mereka-mereka yang notabene amat membenci Islam. Tetapi sikap kita malah sebaliknya, acuh tak acuh.

Memperjuangkan Islam bukan berarti beramai-ramai ke medan pertempuran melakukan pertumpahan darah. Atau melakukan bom bunuh diri seperti yang sering kita lihat di televisi-televisi. Nah, di sinilah kata “memperjuangkan” itu sering disalah artikan. Sebenarnya tidak setiap perjuangan itu selalu berkorelasi dengan peperangan dan perkelahian. Istilahnya “musuh jangan dicari ketemu jangan lari”, itulah konsep dalam Islam yang sesuai dengan Al Quran yang rahmatan lil `alamiin. Islam tidak mengajarkan mencari musuh, tetapi bila musuh menyerang maka Islam tidak boleh melarikan diri. Sikap defensif (bertahan) dalam Islam ini sebagai bukti bahwa Islam itu agama yang cinta damai, tidak suka kekerasan, jauh sekali dari tuduhan bahwa Islam adalah agama teroris. Mungkin mereka mengatakan demikian karena tidak mengetahui konsep Islam secara hakiki. Hal itu bisa kita dimaklumi.

 

Mengingat perjuangan Rasulullah

Islam lahir ke dunia ini mendapat sambutan yang sangat tidak menyenangkan. Berbagai tekanan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy berusaha melenyapkan keberadaan Islam. Ajaibnya, yang terjadi malah sebaliknya. Islam ibarat jamur di musim hujan, tumbuh dan berkembang dengan cepat dan memiliki banyak pengikut. Saat ini Islam telah menjadi agama terbesar di dunia dan keberuntungan bagi kita karena telah menjadi  salah satu bagian dari sekian banyak pengikutnya itu.

Nabi Muhammad sebagai perintis sekaligus penyebar ajaran Islam sudah sepantasnya menjadi satu-satunya sosok sentral keteladanan bagi kita umatnya. Beliaulah guru bagi kita semua, sosok yang memiliki kesempurnaan akhlak tiada tandingannya. Orang kulon mengatakan “The man who never was”, tidak ada sosok manusia seperti itu selain Rasulullah SAW. Disebutkan dalam Al Quran QS At Taubah ayat 128 : Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” Dan dalam QS. Al Qalam ayat 4 : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Dan karena dengan akhlaknya yang mulia itu pulalah Islam sebagai agama yang dipeloporinya mampu merebut hati para pengikutnya. Bahkan Michael H. Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai urutan pertama dalam daftar Seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Tetapi dibalik itu semua perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan dan mengajarkan Islam tidaklah mudah. Banyak aral rintangan terutama yang datang dari para penguasa Mekah yang menganggap Nabi Muhammad SAW orang berbahaya dan hanya bikin onar (trouble maker). Melihat Islam semakin besar, lalu bujuk rayu pun dilancarkan oleh mereka. Nabi Muhammad diiming-imingi harta melimpah ruah serta kedudukan terhormat dengan syarat beliau berhenti menyiarkan ajaran Islam. Lalu apa jawaban beliau? Apakah beliau menerimanya? Beliau sama sekali tidak tertarik dengan iming-iming itu. Ia menolak dengan tegas. Bahkan jika matahari dan bulan ditaruh di kedua tangannya, ia tetap tidak akan meninggalkan agama Islam. Betapa teguh pendirian beliau dan betapa hebat pembelaannya terhadap Islam.

Kita patut bersyukur karena bisa menikmati manisnya Islam tanpa harus terlebih dahulu merasakan pahit getirnya perjuangan mempertahankan Islam. Seandainya saja Rasulullah menerima tawaran kaum kafir Quraisy mungkin Islam tidak akan pernah ada di dunia ini dan kita tidak bisa merasakan ajaran Islam yang rahmatan lil`alamiin itu.

Lalu yang menjadi PR untuk kita adalah bagaimana menjadikan Islam tetap eksis dan keberadaannya tetap dibutuhkan oleh semua manusia di muka bumi ini. Dengan semangat Islam, hal itu dapat dilakukan dengan mendekatkan dan mengaplikasikan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari. Dengan begitu Islam sekedar dogma, hanya hubungan vertikal makhluk dengan Tuhannya, tetapi juga horisontal hubungan manusia dengan manusia lain, sehingga dapat dikatakan ajaran Islam benar-benar mampu mewujud ke dalam perilaku sosial manusia sebagaimana yang diajarkan dalam Al Quran.

Semangat memperjuangkan dan memelihara Islam secara konkret dapat dilakukan melalui beberapa cara diantaranya dengan menghidupkan kembali ruh-ruh agama Islam, seperti mengadakan pengajian-pengajian, diskusi ke Islaman, mempelajari agama Islam dan mengamalkannya, menghidupkan masjid, dan kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya berorientasi pada Islam (Islam oriented). Dengan begitu haapannya Islam akan tetap eksis dan sangat dibutuhkan oleh seluruh umat manusia di jagat raya ini. Amin ya rabbal `alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar