Kamis, 29 Januari 2009

`Alim

`Alim

Kata `Alim terambil dari akar kata “ilm” yang menurut para pakar bahasa berarti “menjangkau sesuai dengan keadaan sebenarnya”. Bahasa arab menggunakan semua kata-kata yang tersusun dari huruf-huruf “ain”,”lam”,”mim” dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Perhatikan misalnya kata-kata “ ‘alamat” (alamat) yang berarti tanda yang jelas bagi sesuatu atau nama jalan yang menghantarkan seseorang menuju tujuan yang pasti. “Ilmu”, demikian juga halnya, ia artikan sebagai sesuatu pengenalan yang sangat jelas terhadap suatu objek. (M. Quraish Shihab. 2005:113)

Dalam Alquran ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama, `Alim. Kata `Alim dalam Alquran ditemukan sebanyak 166 kali. Di samping itu terdapat pula sekian banyak kata `Alim yang menunjuk kepada Allah, sebagaimana banyak juga yang menunjuk-Nya dengan menggunakan redaksi A’lam (lebih mengetahui). Banyaknya ayat-ayat serta beraneka ragamnya bentuk yang digunkan menunjukkan betapa luas dan banyak ilmu Allah.

‘Ilmu menjadi begitu penting dalam kehidupan di alam raya ini. Manusia menjadi mulia karena memiliki berbagai macam ilmu. Ketika terjadi mosi tidak percaya dikalangan para malaikat terhadap keputusan Allah tatkala Ia mentasbihkan manusia sebagai kholifatul fil ardh, Allah mentransfer ilmunya dalam diri Adam dan menyuruhnya membuktikan kelebihan tersebut dihadapan para malikat. Dengan ilmu yang telah diajarkan-Nya inilah akhirnya para malaikat menjadi bersujud dihadapan Adam saat Allah memerintahkan bersujud.

Ilmu menjadi pisau bedah bagi kehidupan manusia dalam menghadapi realitas kehidupan. Realitas, sebagaimana diungkapkan Kuntowijoyo, merupakan sesuatu yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh orang, tetapi melalui tabir (kata, konsep, simbol, budaya, persetujuan masyarakat). Orang melihat realitas tidak seperti anjing melihat tulang; animal’s faith tidak pernah terjadi pada bangsa manusia. Ilmu menjadi jalan menuju kebenaran sekaligus mempertanyakan kebenaran itu sendiri, apakah kebenaran itu memang kebenaran “kaffah” ataukah kebenaran relatif, yang sering memunculkan multitafsir dan menimbulkan debat kusir tanpa ujung.

Ilmu dan kebenaran saling terkait bagaikan mata rantai yang tak bisa di lepaskan, sebagaimana Allah menyebutkan dalam sebuah firman-Nya, “akan mengangkat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat”. Firman ini bukanlah sebuah model heirakis, melainkan hubungan yang setara antara ilmu dan iman. Ilmu harus mampu mambawa pemiliknya menuju ke-iman yang tertinggi dan membuatnya selalu berada dalam keadaan “hanif”. Ilmu menjadi kacamata kedua, setelah hembusan ketauhidan yang diberikan Allah ketika di alam kandungan, untuk memandang kebenaran.

Islam memandang kebenaran ialah apa saja yang datang dari Tuhan sebagai sumber kebenaran tertinggi dari semua kebenaran, al haqqu mirrobbik. Al haqqu mirrobbik inilah yang seharusnya mampu ditangkap oleh “radar-radar” keimanan manusia. Efek dari penangkapan sinyal-sinyal al haqqu mirrobbik adalah membawa manusia menuju derajat “kaffah kebenaran”, keadaan manusia yang terselimuti cahaya kebenaran hingga menjadi manusia ahsanu taqwim. Hanya saja yang perlu digaris bawahi, “kaffah kebenaran” ini bukanlah manusia berubah atau menggantikan posisi “ ana al haq”, kebenaran tertinggi alias keadaan kebenaran yang sebenarnya benar; Tuhan. Kebenaran mutlak tetaplah milik Allah, manusia hanya ‘kecipratan” setitik dari air samudara kebenaran Allah.

Dari ilmu menuju Al Hakim.

Muara ilmu, sebagaimana akar kata ilmu itu sendiri, yakni mencapai keadaan yang bijaksana, keadaan tanpa keraguan. Menurut imam Al-Ghazali, hakim di tempatkan dalam wilayah pengetahuan tentang sesuatu yang paling utama; ilmu yang paling utama dan wujud yang paling agung; yakni Allah swt. “ilmu yang mampu membawa ke al Hakim inilah oleh orang-orang jawa di sebut “ilmu sejati”, yakni ilmu bisa membawa pemiliknya untuk mengingat “sangkan paraning dumadi”, konsep asal usul dan tujuan manusia diciptakan.

Dengan ilmu, manusia menjadi bijaksana; bijaksana dalam bertindak, berkata dan bergaul sesama makhluk Allah. Manusia bijak tidak akan bertindak nista, menipu, korupsi, meneror kehidupan orang lain, menyakiti, menyinggung perasaan makhluk lain. Orang bijak akan selalu menghindari hal-hal yang negatif karena sadar bahwa gusti ora sare (Allah tidak tidur). Gerak geriknya dalam lingkup Allah dan perbuatan apa saja pasti menui pembalasan (ngunduh wohing budi pakerti), sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Zalzalah. Sikap hakim adalah sikap “berbudi bawa laksana” yakni sikap yang konsekuen dalam ucapan dan tindakannya. Sikap Al-hakim menjadikan manusia “ngerti empan-papan”, tahu waktu-tempat, sesuai kondisi diri, sosialnya, apakah sebagai penguasa atau jelata, miskin-kaya, ia akan mampu bersikap “memayu hayuning bawono” menciptakan kedamaian dijagat raya ini sesuai tugas kholifatul fil ardh. Wa’allhu ‘alam bishowab.



Oleh : Khoirul Anwar (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga)

Ta`lim, ta`dib, dan tarbiyah

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan Tuhanmu-lah yang maha pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya.

Dunia pendidikan dalam Islam mendapatkan perhatian yang utama selain masalah ketahuidan. Surat Al-Alaq, sebagai wahyu pertama, secara tersirat menyuruh umat manusia untuk tidak serta merta “beriman” sebelum adanya “ilmu” sehingga orang bertauhid bukanlah tanpa dasar. Ruang “dialogis keimanan” ini memberikan kesempatan kepada manusia untuk berpikir secara”hanif”, tanpa ada paksaan, untuk menerima ketauhidan universal Islam. Pendidikan dalam Islam bukanlah sebuah “transfer of knowledge” semata, pemindahan ilmu dari guru-murid, tanpa adanya dialog-dialog kritis dari kedua belah pihak (guru-murid), sebagaimana digambarkan dalam dialog antara Nabi Muhammad dengan Jibril saat menerima wahyu pertama di gua Hira’. Dengan adanya “umpan balik” antara guru-murid melahirkan berbagai macam konsep-konsep pendidikan dalam Islam, diantaranya: ta’lim, ta’dib dan tarbiyah. Kosep ini semua bermuara pada pendidikan transformatif, pendidikan yang menghantarkan peserta didik menjadi “ahsanu taqwim”.

Pengertian ta’lim, ta’dib, dan tarbiyah.

Ta’lim, secara bahasa berarti pengajaran (masdar dari ‘alama-yu’alimu-ta’liman), secara istilah berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan. Menurut Abdul Fattah Jalal, ta’lim merupakan proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya ( ketrampilan). Mengacu pada definisi ini, ta’lim, berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’ seperti yang digambarkan dalam surat An Nahl ayat 78, “dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.

Ta’dib, merupakan bentuk masdar dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban, yang berarti mengajarkan sopan santun. Sedangkan menurut istilah ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar.

Menurut Sayed Muhammad An-Nuquib Al-Attas, kata ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud keberadaan-Nya. Definisi ini, ta’dib mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), pengasuhan (tarbiyah). Oleh sebab itu menurut Sayed An-Nuquib Al Attas, tidak perlu mengacu pada konsep pendidikan dalam Islam sebagai tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib sekaligus. Karena ta’dib adalah istilah yang paling tepat dan cermat untuk menunjukkan dalam arti Islam.

Tarbiyah, merupkan bentuk masdar dari kata robba-yurabbi-tarbiyyatan, yang berarti pendidikan. Sedangkan menurut istilah merupakan tindakan mangasuh, mendididk dan memelihara.

Muhammad Jamaludi al- Qosimi memberikan pengertian bahwa tarbiyah merupakan proses penyampian sesuatu batas kesempurnaan yang dilakukan secara setahap demi setahap. Sedangkan Al-Asfahani mengartikan tarbiyah sebagai proses menumbuhkan sesuatu secara setahap dan dilakukan sesuai pada batas kemampuan.

Menurut pengertian di atas, tarbiyah diperuntukkan khusus bagi manusia yang mempunyai potensi rohani, sedangkan pengertian tarbiyah yang dikaitkan dengan alam raya mempunyai arti pemeliharaan dan memenuhi segala yang dibutuhkan serta menjaga sebab-sebab eksistensinya.

Analisis perbandingan antara konsep ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah

Istilah ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah dapatlah diambil suatu analisa. Jika ditinjau dari segi penekanannya terdapat titik perbedaan antara satu dengan lainnya, namun apabila dilihat dari unsur kandungannya, terdapat keterkaitan yang saling mengikat satu sama lain, yakni dalam hal memelihara dan mendidik anak.

Dalam ta’lim, titik tekannya adalah penyampain ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah kepada anak. Oleh karena itu ta’lim di sini mencakup aspek-aspek pengetahuan dan ketrampilan yang di butuhkan seseorang dalam hidupnya dan pedoman perilaku yang baik.

Sedangkan pada tarbiyah, titik tekannya difokuskan pada bimbingan anak supaya berdaya (punya potensi) dan tumbuh kelengkapan dasarnya serta dapat berkembang secara sempurna. Yaitu pengembangan ilmu dalam diri manusia dan pemupukan akhlak yakni pengalaman ilmu yang benar dalam mendidik pribadi.

Adapun ta’dib, titik tekannya adalah pada penguasaan ilmu yang benar dalam diri seseorang agar menghasilkan kemantapan amal dan tingkah laku yang baik.

Denga pemaparan ketiga konsep di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiganya mempunyai satu tujuan dalam dunia pendidikan yaitu menghantarkan anak didik menjadi yang “seutuhnya”, perfect man, sehingga mampu mengarungi kehidupan ini dengan baik. waAllahu ‘alam.



Oleh : Zaenul Ngator (direktur TPA masjid Baiturrahman Gowok)

Pribadi Muslim Ideal

Judul di atas tidak hanya merupakan dambaan satu-dua muslim, melainkan menjadi dambaan hidup setiap orang yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Namun persoalannya adalah bagaimana kiat-kiat untuk mewujudkan impian maupun dambaan hidup di atas? Melalui tulisan inilah penulis mencoba menjelaskannya.

Dalam al-Qur’an, banyak sekali dijumpai sekumpulan ayat-ayat yang memberikan petunjuk kepada kita tentang kepribadian muslim yang harus diwujudkan dalam pribadi kita masing-masing selaku hamba Allah Yang Maha Pengasih. Salah satu di antara ayat-ayat itu adalah surat al-Furqaan ayat 63-68. Kepribadian muslim ideal yang diterangkan dalam surat ini adalah sifat yang luhur dan mulia, sehingga Allah sendiri menyebut orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dengan sebutan “Ibaadur Rahman” (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih). Adapun Redaksi ayat 63-68 dari surat al-Furqan adalah sebagai berikut:

وعباد الرحمان الذين يمشون على الاْرض هونا واذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما واللذ ين يبيتون لربهم سجدا وقياما و الذ ين يقولون ربنا اصرف عنا عذاب جهنم ان عذابها كان غراما انها ساءت مستقرا ومقاما والذين اذا اْنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما والذين لا يدعون مع الله الها اخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله الا بالحق ولا يزنون ومن يفعل ذالك يلق اْثاما يضاعف له العذاب يوم القيامة ويخلد فيه مهانا .

“Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan. Dan orang-orang yang yang di waktu malam bersujud dan berdiri karena Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata (berdo’a) Ya Tuhan Kami, jauhkan adzab jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian itu. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya.” (QS. (25) al-Furqan: 63-68).

Firman Allah di atas secara jelas memberikan kita pelajaran yang sangat penting, guna menghiasi diri dan pribadi kita dengan sifat-sifat, sikap dan perilaku yang menunjukan tata kesopanan dan keluhuran budi pekerti atau akhlak yang mulia sebagai hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih atau Ibaadur Rahmaan. Adapun ciri yang pertama dari Ibaadur Rahmaan adalah mereka yang apabila berjalan dan menampilkan diri di tengah-tengah masyarakat selalu berpenampilan yang simpatik, tidak sombong dan angkuh. Merek berjlan dengan penuh tawadhu’ dan dengan langkah yang tertur serta tidak dibuat-buat yang dapat menimbulkan kesan menarik perhatian orang lain. Ciri atau sikap yang pertama ini sejalan dengan firman Allah yang lain, yang menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang bersifat sombong lagi membangga-banggakan diri. Sebagaimana firman Allah berikut ini:

ولا تصعر خدك للناس ولا تمش في الاْرض مرحا ان الله لا يحب كل مختال فخور واقصد في مشيك و اغضض من صوتك ان اْنكر الاْصوات لصوت الحمير

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu di dalam berjalan dan lunakanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman: 18-19).

Dalam surat al-Israa’ ayat 37 juga disebut sebagai berikut:

ولا تمش في الاْرض مرحا انك لن تخرق الاْرض ولن تبلغ الجبال طولا

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

Kedua, adalah tata cara kesopanan dalam berbicara dan berkomunkasi dengan orang lain, terutama ketika kita berhadapan langsung dengan orang-orang yang kurang ilmu pendidikannya atau pun lebih rendah derajatnya dari kita. Dalam hal ini hendaknya kita menunjukan adab atau etika yang baik dan terpuji. Dengan kata lain bahwa bagaimana kita menghadapi orang lain dengan tampilan wajah yang cerah dan simpatik serta membalas ucapannya dengan kata-kata yang mengandung kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan. Dengan demikian akan menimbulkan kesan pada lawan bicara kita bahwa dirinya diperlakukan secara terhormat dan sekaligus membuat kita dihormati dan menjadi ketauladanan baginya. Sikap atau cara bergaul seperti ini telah diajarkan oleh Rasulullah Saw melalui sabdanya, yaitu:

اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan buruk, dan pergaulilah manusia (orang lain) dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Selain itu, dalam firman Allah yang lain juga disebutkan:

ولا تستوى الحسنة و لا السيئة ادفع با لتي هي اْحسن فاءذا الذي بينك وبينه عداوة كاْنه ولي حميم وما يلقاها الا الذين صبروا وما يلقاها الا ذو حظ عظيم .

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan di antara dia ada permusushan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Sifat-sifat yang baik itu) tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. (41) Fushshilat : 34-35).

Sedangkan ciri yang ketiga, selalu mempergunakan kesempatan di waktu malam harinya untuk melakukan taqarrub Ilallah dengan melakukan sholat tahajjud dan sholat witir serta melakukan dzikir dan muhasabah. Cara ini dilakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dengan memohon ampunan dan kekuatan serta keselamatan dunia dan akhirat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang muslim itu hendaknya pada siang hari melakukan tugas-tugas kehidupannya dan berjuang untuk kalimat Allah. Adapun pada malam hari hendaknya mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Keempat, senantiasa mengingat akhirat atau hari hisab.Yaitu suatu hari di mana semu amal manusia akan dipertanggungjawabkan di hari itu, yang baik akan diberi pahala yang berlipat ganda, sedangkan yang buruk akan diberi ganjaran dan siksa yang pedih lagi menghinakan. Karena itu, seorang muslim tidak boleh lalai dalam memohon kepada Allah agar dijauhkan dari adzab api neraka jahannam. Berdo’a kepada Allah pada hakikatnya adalah ibadah. Karena itu do’a merupakan amalan yang wajib dilakukan setiap muslim. Seseorang yang enggan dan tidak pernah berdo’a kepada Allah niscaya tidak akan memperoleh ridha dan ampunan Allah swt. Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:

وقال ربكم ادعوني اْستجب لكم ان الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين .

“Dan Tuhanmu berfirman: berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina-dina.” (QS. Al-Mu’min (40): 60).

Ciri yang kelima, membelanjakan rezeki yang dianugerahkan Allah dengan melakukan perbelanjaan secara hemat dan sederhana, yakni tidak boros dan tidak kikir atau bakhil, melainkan senantiasa membelanjakan harta di tengah-tengah yang demikian itu. Sikap hidup sederhana ini adalah sifat yang diridhai Allah. Sedangkan kebalikannya, perilaku hidup yang berlebih-lebihan itu sangat dimurkai Allah. Bahkan orang yang melakukannya disebut sebagai saudara setan. Hal ini terlihat dari penjelasan ayat berikut ini:

وات ذالقربى حقه والمسكين وابن السبيل ولا تبذر تبذيرا ان لمبذرين كانوا اخوان الشياطين وكان الشيطان لربه كفورا.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang orang yang dalam perjalanan , dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudaranya setan, dan adalah setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Israa’ (17): 26-27).

Namun sebaliknya, Allah pun melarang kita untuk berlaku kikir dan enggan mengeluarkan harta pada saat-saat dibutuhkan, seperti untuk keperluan belanja dan kebutuhan sehari-hari, untuk kepentingan umat atau masyarakat umum, untuk menanggulangi bahaya kelaparan dan sebagainya. Di lain itu, Allah swt mewajibkan kita mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah, yang bertujuan agar harta itu dapat difungsikan sebagiannya untuk keperluan Fi Sabilillah dan untuk kepentingan masyarakat.

Keenam adalah selalu menjaga dan memelihara ibadahnya, semata-mata hanya karena Allah, bukan pada selainnya. Selain itu, seorang muslim tidak melakukan penganiayaan apalagi menghilangkan nyawa orang lain yang tidak dibenar secara hukum, demikian juga tidak melakukan perbuatan asusila. Mengingat semua perbuatan-perbuatan itu adalah termasuk dosa besar yang sudah barang tentu ada balasannya berupa sikaan (adzab) yang berlipat ganda di akhirat kelak.

Demikianlah penjelasan kesembilan sifat Ibaadur Rahman (Hamba-hamba AllahYang Maha Pengasih). Akhirnya uraian singkat ini mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua, khususnya dalam menjadikan diri kita semua sebagai pribadi muslim yang ideal, yang tidak hanya memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi diri kita pribadi, melainkan juga keluarga maupun lingkungan yang lebih luas, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Wallahu A’lam bishshowab

Oleh : Farid Naya, M.S.I

Senin, 19 Januari 2009

Bale Sigala-gala

Sabtu pagi, 27 Desember, Rushdi Abdu Alouf seharusnya pergi berbelanja ke supermarket di tengah kota. Malam tahun baru tinggal empat hari lagi. Di rumahnya di kota Gaza, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari kantor kementerian pendidikan hamas, ia biasanya menyambut perayaan dengan suka cita. Seluruh keluarga besarnya, istrinya dn empat anaknya, ayah dan ibu Alauf, serta dua kakak laki-lakinya, daging panggang, buah-buahan, dan beragam minuman.

Gaza sibuk menyiapkan pesta pergantian tahun. Kantor dan pusat pelayanan umum juga sudah tutup sejak sehari sebelumnya. Pos-pos penjagaan tampak lengang. Banyak anggota paramiliter tengah menyiapkan sebuah acara pelantikan. Ya, semuanya baik-baik saja, sampai akhirnya sebuah iring-iringan pesawat tempur F-16 dan F-15 serta helicopter militer CH-53 milik Israel menererobos biru langit kota Gaza dan mulai menghujani sebuah kantor polisi dengan rudal. Bumi pelestina bergetar hebat, gedung rontok, pesta kembang api berubah menjadi pesta amunisi. Mayat bergelimpangan dari berbagai jenis, usia dan jabatan.

Hari pertama serangan Israel menyebabkan 200 warga Palestina tewas. Memasuki hari ke-12 kemarin, jumlah korban tewas mencapai 689 orang, termasuk 220 anak-anak dan 58 wanita. Lebih dari 3000 orang lainnya cedera. Gaza berubah jadi lautan darah.

Ingat gaza, ingat pula dengan Bale sigala-gala dalam lakon pewayangan. Bale sigala-gala adalah tempat pesta sekaligus neraka. Tempat ini ( bale sigala-gala ) merupakan jebakan yang dibuat oleh kurawa untuk melenyapkan trah Pandawa. Keturunan Pandawa merupakan pemilik sah atas tahta Ngastina sedangkan Kurawa hanyalah pihak yang dititipi oleh prabu Bharata saat prabu sentanu enggan di jadikan penerus tahtanya. Lamanya menguasai keraton menimbulkan niat untuk menguasai selamanya bagi kurawa. Jalan keji ditempuh, tipu muslihat dijalankan, halal-haram tak dihiraukan, yang terbesit hanyalah satu keinginan yakni Ngastina menjadi miliknya.

Palestina-Ngastina, gaza-Bale sigala-gala memang tak mempunyai asal-usul sejarah yang sama. Peristiwa yang terjadi di palestina adalah realita nyata sedangkan Bale sigala-gala hanyalah sebuah cerita gubahan manusia tetapi peristiwa yang terjadi di dalamnya mengandung pesan bagi anak cucu manusia.

Gaza dan bale sigala-gala merupakan saksi bisu atas kerakusan manusia dan menjadi tempat pembuktian bahwa manusia memang doyan perang. Perang dijadikan jalan akhir untuk merebut kekuasan, mempertahankan kehormatan. Manusia memang tak selalu lurus sekaligus mendalam dalam mengambil kebijakan, nafsu serakah seringkali di nomor wahidkan sehingga keputusan-keputusannya banyak memakan korban.

Israel merupakan kurawanya sejarah manusia. Dalam al-Qur'an bangsa Israel merupakan anak cucu dari keturunan nabi Nuh yang selamat dari bencana banjir besar. Keturunan nabi Nuh yang selamat ini kelak menjadi cikal bakal perkembangan sejarah manusia. Israel yang mempunyi arti sebagai bangsa yang disertai oleh para nabi, ternyata dalam realitanya tak menggambarkan jiwa sekaligus sifat kenabian. Bangsa Israel cenderung menjadi bangsa yang ingkar dan menyukai kerusakan daripada kedamaian. Kesombongan dan sikap 'ngeyel' nya menjadiakan bangsa Israel cenderung dijauhi oleh basa-angsa lain. Fir'aun pernah memburu dan bernafsu memusnahkan bangsa Israeil dari bumi Mesir. Menurut ramalan dari kalangan istana kelak dinasti Fir'aun akan diruntuhkan oleh keturunan yahudi yang selama pemrintahannya ini di jadikan budaknya. Tapi Allah berkehendak lain, Israel di selamatkan oleh Musa dari rencana 'holoucaust'nya fir'aun. Mekipun Musa adalah penolong tetapi kata-kata nya tak permah diiyakan oleh Israel. Musa mengajak mereka untuk bertauhid tetapi mereka malah ingkar dengan membuat tuhan tandingan dengan tuhan yang mereka buat dari emas. Keingkaran-keingkaran yang telah mereka buat menyebabkan tuhan pernah mengutuk mereka menjadi kera.

Kisah bangsa Israel dalm al­-Qur'an mendapatkan porsi yang besar dibandingkan dengan kisah bangsa-bangsa romawi. Pengkisahan yang menempati porsi lebih ini seolah mengingatkan kepada umat manusia akan lika-liku sekaligus sifat dari bangsa Israel yang dalam sejarahya banyak menggoreskan sejarah yang kelam dari tangan tangan siluman.

Israel sejak dulu memang tak pernah mendiami wilayah yang permanent, baru pada 2 November 1917 dengan adanya deklarasi Balfour yang digagas Ingris Israel mulai mendirikan negara dengan menyerobot wilayah palestina. Deklarasi Balfour merupakan lampau hijau bagi bangsa yahudi Palestina untuk mendirikan tanah air. Negara baru di tanah air orang lain inilah yang menjadi awal dari rentetan pristawa berdarah di tanah palestina.

Palestina dalam pandangan Israel merupakan "tanah yang dijanjikan", mesikipun kata tersebut memuat kata janji yang mempunyai multitafsir, menyebabkan bangsa yahudi ini perlu menyingkirkan Palestina. Rentetan peristiwa berdarah menyulap palestina menjadi bale sigala-gala. Pada tahun 1936, ketika rvolusi arab yang dipimpin oleh Amin Al Husaini. Tak kurang dari 5000 warga arab terbunuh, peristiwa berdarah terus berlanjut, pada tahun 15 Mei 1948 secara sepihak Israel mengumumkan diri sebagai negara Yahudi. Peristiwa ini menyulut Mesir, Surih, Irak, Lebanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh gendering perang melawan Israel.

Sampai sekarang palestina masih menjadi medan laga sehingga menimbulkan pertanyaan, akankah ada kedamain ditanah para rosul tersebut? Kapankah hal itu akan terjadi? Tak ada yang bisa memprediksikan waktunya. Selama Israel masih ngotot memperluas wilayahnya berarti selama itu pula perlawanan rakyat Palestina akan terus tercipta. Meskipun rudal-rudal meluluh lantakkan dan membunuh beribu rakyat Palestina selama itu pula (sebagaimana diungkapkan nono Anwar Makarim) beribu rakyat Palestina yang menawarkan dirinya untuk dilatih mengisi lowongan mereka yang dibantai. Sepuluh yang dibunuh, seratus yang maju. Politik basmi yang ditujukan pada gerakan yang didukung rakyat adalah jalan buntu.

Peristiwa berdarah di jalur Gaza hanyalah sebuah muqadimah ke peristiwa yang paling besar bak peristiwa pembantaian di bale sagala-gala yang menghantarkan ke perang Baratayudha. Ada semacam keyakinan di kehidupan umat manusia bahwa kelak kita akan mengalami peristiwa yang paling tragis sebelum kiamat tiba. Islam menyebutkan peristiwa itu sebagai Al mahamah Al kubra, huru hara besar atau umat lain menyebutnya Armageddon. Meskipun peristiwa ini tidak bisa ditebak bentuknya, perangkah atau suatu peristiwa alam. (waallahu a'lam)

Jika memang peristiwa itu benar-benar terjadi, apakah memang kita tidak bisa hidup dalam suasana damai? Apakah peristiwa berdarah sepanjang sejarah manusia menunjukkan kebenaran perkataan malaikat bahwa manusia adalah makhluk yang gemar menumpahkan darah? Ataukah semua ini adalah sekenario Tuhan? Yang jelas damai itu indah. Bukankah Tuhan sendiri menyukai kedamaian dan hanyalah yang berjiwa damailah kelak yang dimasukkan dalam " lingkaran Tuhan" sebagaimana firman-Nya' yaa ayyutuhannafsul muthmainnah irji' ilaa rodhiyataa mardiyah". Adakah jiwa-jiwa Ayang tenang yang tersisa dalm dada manusia sehingga terciptanya dunia" toto tentrem gemah raharjo"
kaha.Anwar

Tuhan, Ilmu, dan Makna Agama


maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS:30:30)

Pada era industri ini, pendangkalan keyakinan manusia akan Tuhan semakin tampak nyata di depan mata. Kemajuan ilmu dan teknologi yang ditandai dengan kemampuan akal (rasionalitas), kepercayaan atas realitas aktual (empirisme), dan semangat eksperimentasi, telah melahirkan kemerdekaan manusia untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan.

Dua gejala

Setidaknya, hemat penulis, ada dua gejala besar yang bisa kita tandai dari kasus kebebasan manusia untuk lari dari Tuhan ini.

Pertama, gejala yang tampak dari mereka yangb terang-terangan tidak beriman dan tidak “peduli” pada Tuhan.. realitas dunia mereka serap dan susun hanya sekedar untuk memenuhi kemampuan dan kepentingan mereka baik sebagai konglomerat, filosof, ilmuwan, dan lain sebagainya. Agama hanyalah omong kosong belaka. Karl marx(1818-1883), misalnya, memandang agama sebagai” desahan makhluk tertekan...candu masyarakat, untuk membuat penderitaan tertanggungkan. Karl Marx memandang bahwa agama bukanlah system yang sanggup memberikan solusi terhadap permasalahan kehidupan masyarakat, agama hanyalah “pelarian” manusia-manusi yang tak sanggup manghadapi kegaluan kehidupan modern.

Nietzche, yang memproklamirkan tentang “kematian Tuhan”, menurutnya, agama –agam yang sudah dijadikan rujukan manusia ini sarat dengan kontaminasi dan unifikasi dogma-dogma klasik, dongeng-dongeng baku, dan irrelevan dengan kebutuhan manusia. Agama disebut tidaklah lebih dari sebuah pelarian manusia-manusia yang gagal menggunakan akalnya yang mengalami kekalahan memperebutkan keberuntungan-keberuntungan yang dijanjikan kehidupan modern.

Kedua, gejala itu tampak dari mereka yang mengaku beriman pada Tuhan. Namun, Tuhan telah mereka lupakan dan campakkan dalam lakon kehidupan sehari-hari yang mereka jalani atas dasar hawa nafsu, kepentingan, dan keinginan untuk menjadi penguasa atas manusi lainnya. Mereka pun korupsi, berambisi pribadi menghancurkan alam, dan merusak taanan sosial.

Dua gejala besar yang akut itu telah menjangkiti manusia. Termasuk orang-orang muslim yang beriman pada Allah, yang shalat lima kali sehari, yang berhaji setiap tahun, yang rutin berzakat, dan yang begitu tampak saleh di depan publik.

Pertanyaannya, apakah dengan menyingkirkan Tuhan, mereka dan bahkan kita semua mampu memberikan “obat” untuk menyembuhkan penyakit kehidupan modern ini? Apakah saat nafsu dan kepentingan menjadi landasan hidup telah kita praktekan, lantas ketakutan-ketakutan kita jadi hilang?

Ilmu: Kehilangan Arah

Kegaluan masyarakat bukannya berkurang, melainkan semakin parah. Berkat kemajuan buah pikir yang cemerlang teknologi dan sains lainnya, manusia semakin mudah untuk saling memusnahkan satu sama lain. Modus operandi kejahatan semakin rapi, kerusakan moral semakin tak terbendung, penindasan sesama manusia bertambah pinak.

Sains dan tekologi telah kehilangan arah tujuan. Semualnya sebagai alat untuk memakmurkan dunia. Kecanggihan teknologi hanya menjadi malapetaka bilamana para pemegangnya tidak punya moral.

Hal ini menunjukkan adanya sikap manusia yang mencabut roh ketuhanan. Padahal, kemajuan teknogi tanpa didukung nilsi-nilai ke-Tuhan-an tak ubahnya seperti si buta yang yang dipegangi pedang, pasti ngawur menebasnya.

Ilmu pengetahuan yang semula oleh Allah diturunkan agar manusia bisa menemukan jati diri dan keberadaan Tuhannya, kini malah sebaliknya. Ilmu pengetahuan yang kita miliki semakin menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Seperti yang dikatakan T.S. Elliot, semakin hari ilmu pengetahuan hanya membawa kita kepada kebodohan, sedangkan kebodohan kita membawa kita makin dekat kepada kematian. Tetapi semakin dekat dengan kematian bukannya membawa kita dekat kepada Tuhan tetapi malah menjauh.

Begitulah, jika Tuhan dijauhkan dari hidup ini. Pandangan kita hanya dijejali oleh keinginan bagaimana memuaskan hawa nafsu, ambisi, materi dan kepentingan sesaat semata. Kita pun diperbudak oleh benda-benda mati yang seharusnya kita kendalikan.

Hanif : Agama sebagai sistem

Firman Allah di atas menjelaskan bahwa agama merupakan kebutuhan. Kalau boleh dikatakan, agama adalah roh manusia yang bisa membuat manusia hidup dan bersemangat dalam mengarungi ganasnya kehidupan.

Sudah menjadi tabiat manusia bila ada masalah di luar kemampuannya, mereka akan mencari penolong yang dianggap memiliki kekuatan di atas segala kekuatan untuk dimintai pertolongan (QS:17:83. pemilik kekuatan linuwih inilah yang dinamakan Tuhan.

Sudah menjadi fitrah bila manusia merindukan Tuhan. Ini semua tak lepas dari awal manusia yang suci, dan dorongan alaminya untuk senantiasa merindukan, mencari, dan menemukan Tuhan. Itulah ajaran yang disebut hanif.

Melalui kehanifan ini, manusia berusaha mencari kebahagian hakiki yang akan tercapai bila manusia mampu menemukan kesejatian (ma’rifat) Tuhan (QS: 89: 27-30)

Untuk itu, kita memerlukan sebuah sistem hanif yang akan mengantarkan kita tepat pada sasarannya. Sistem inilah yang kita sebut dengan agama.

Agama dipandang sebagai cara atau sarana untuk menemukan kebutahan dambaan manusi. Walaupun, di abad modern ini, ada yang percaya bahwa agama akan segera tergantikan oleh ilmu pengetahuan.

Namun, setelah kemajuan besar tercapai oleh pengetahuan, manusi tetap merasakan adanya kebutuhan terhadap agama berkenaan dengan bagaiman manusia meraih kebahagiaan pribadi maupun sosialnya.

Tuhan adalah suatu keniscayaan bagi setaip manusia. Hal ini didasari oleh sifat manusia yang ingin memenuhi kebutuan spiritulnya tanpa batas, ingin melepaskan diri dari wujud terbatas,dan ingin encapai inti wujud( Tuhan ).

Pada diri manusi terdapat dorongan dan dambaan yang tidak akan menetap, tenang dan tentram, kecuali jika telah berhubungan dengan sumber inti wujud ini.

Tanpa Tuhan, politik dan moralitas akan menjadi pragmatik dan licik, jiwa-jiwa mendadak gersang, bencana pun semakin mengerikan.

Agama Sebagai Sarana

Tetapi, yang perlu dicatat saat ini adalah agar agama tetap berada dalam fitrahnya, yakni sebagai kebutuhan pokok manusia dan tidak dianggap sebagai “opium”. Maka tugas kita adalah menerjemahkan (memaknai) agama itu sendiri dalam bentuk praktek membuat kebaikan bagi alam semesta ( memayu hayuning bawono) dalam kehidupan sehari-hari (QS : 21 : 107)

Hal ini penting, agar agama itu tidak kita pandang hanya sekedar ritual rutin yang bisa menyebabkan kita menganggap diri kita ini paling saleh setelah menjalankannya. Jika kita masih seperti itu, mungkin itulah agama yang disebut candu. Wajar, kalau manusia modern semakin sangsi dan pada akhirnyaakan menciptakan agama (aliran-aliran) baru bahkan Tuhan baru.

Jadi, memaknai agama dengan sebenarnya adalah keharusan bagi setiap umat beragama supaya agama benar-benar menjadi suatu kebutuhan manusia yang hanif tersebut. Sehingga keberadaan agama tetap langgeng dan tak tergantikan oleh paham-paham sesat lainnya.

Agama bukanlah “berhala” yang harus disembah. Agama hanyalah sebuah sarana menuju Allah. Marilah kita hitung, berapa banyak di antara kita yang lebih beriman pada agamanya daripada beriman pada Allah. Wa Allahu a’lam.

Khoirul Anwar

Mahasiswa UIN Yogyakarta

Alamat Yogya: fakultas Sains dan Teknologi, jurusan pendidikan kimia

, UIN Yogyakarta

Rabu, 14 Januari 2009

Kata sambutan

Assalamu`alaikum wr. wb.
Alhamdulillah,
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang atas karunia dan ridho-Nya akhirnya alamat blog yang kami buat ini dapat terrealisasi dengan baik.
Harapannya blog ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan awal mula tujuan pembuatan blog ini.
Selanjutnya kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pengunjung semuanya demi kesempurnaan dan kelengkapan blog ini.
Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui mbr_buletin@yahoo.com atau bisa langsung pada blog ini.
Wassalamu`alaikum wr. wb