Minggu, 18 April 2010

Lebaran

LEBARAN

 

Lebaran itu adalah keceriaan. Waktu masih kecil kita teringat bagaimana kita bersuka cita menyambutnya, entah apa yang mendasari hati kita riang, apakah kita paham betul tentang makna lebaran, saya kira tidak, yang jelas berbagai faktor membuat hati ini riang jelas ada. Baju baru, atau bahkan bebasnya kita dari jeratan kelaparan di siang hari mungkin juga penentu keriangan waktu itu. Atau sebuah pengharapan adanya infak dari sesepuh saat kita sungkem, silahturrahmi. Sudah jadi adat jika lebaran tiba orang tua atau yang dituakan akan bagi-bagi duit, semacam angpau bagi etnis cina, meskipun dihari-hari biasa ia tergolong pelit bin medit. Di hari lebaran itu seolah-olah hatinya terbuka utnuk berbagi meskipun kita tak tahu motifnya, apa karena isin, malu, atau memang sebuah ketulusan, wa'allahu wa yang kasih duwit a'lam.

Memang lebaran merubah segalanya. Yang dulu tak punya baju baru, dihari itu akan berusaha mempunyai baju baru, entah ia miskin sekalipun tetap akan berusaha untuk tampil beda dihari yang agung tersebut. Rizki itu ada yang mengatur, dan itu betul. Seolah-olah Allah tak tega jika di hari yang tumplek blek keriangan itu ada hamba-Nya yang kleleran gak ikut senang. Ia seolah malu pada diri-Nya sendiri, begitu menggebu dan semangatnya hamba-Nya mengagungkan asma-Nya, sampai-sampai berkeliling kampung sambil mengenalkan asma keagungan-Nya pada alam sekitar, mengajak bertasbih, tahmid dan tahlil, mengajak mencintai dengan dzikir ismul adzom-Nya, jika tak memenuhi kebutuhan hambanya, meskipun hanya sepotong baju. Ia sumber segala rizki, meski Ia tak akan menurunkan wujud baju dari langit, yang melayang-layang layaknya dongeng anak-anak. Ia punya banyak pintu, tangan yang bisa mewujudkan baju tersebut, itu adalah hal yang mudah bagi-Nya.

Malamnya, malam satu syawal, keceriaan itu mulai terbit. Anak-anak siap di tangannya dengan obor, lampion atau kembang api. Seolah-olah ia laskar Allah yang siap mengatakan dengan keras "Allahu Akbar" dan menunjukkan kepada yang lain bahwa ia juga mencintai Allah, tak hanya orang tua saja, kyai atau ustad yang wajib mencintai Tuhan tapi anak kecil juga bisa bermahabbah, bercinta.

Obor, lampion, atau kembang api hanyalah sebuah simbol atau bahkan hanya sebuah pesan yang ingin disampaikan kepada yang lain. Bahwa hidup ini harus selalu dibimbing dengan pancaran asma-Nya yang agung. Dan pancaran itu jangan hanya dikuasai oleh dirinya sendiri melainkan juga ditularke, diberikan, kepada yang lain meskipun orang lain tak ikut membawa obor dan meneriakkan "Allahu Akbar", jangan pelit dan pilih kasih jika ingin memberi apalagi memberi sinar kehidupan, petunjuk kehidupan. Jangan emban cinde emban siladan, dalam hidup di dunia ini. Orang yang tak punya obor bukan berarti ia anti pada obor lantas kita musuhi, siapa tahu ia belum tahu hakikat obor yang kita pegang ini.

"Singkirkanlah duri di jalan jika engkau mempunyai iman", kata Nabi SAW. Ini ajaran kasih sayang, ajaran yang tak mengenal konsep siapa aku, siapa engkau. Duri tetaplah duri jika ia mengenai orang lain tentulah sakit. Kalau hendak menyingkirkan duri di jalan tak usah berpikir konsepnya pedagang, mikir untung ruginya. Sebetulnya  oleh kanjeng Nabi SAW kita disuruh belajar kepada duri: duri tak mengenal sistem kasta, golongan, pangkat, agama atau rupa seseorang yang hendak ditusuknya. Duri tak 'kan berpikir, "oh ini muslim apalagi orangnya puasa, aku tak 'kan menusuknya, jika kutusuk bisa-bisa Tuhanku menyatakan perang pada bangsaku". Atau, "Oh orang ini kafir, pelit, tak pernah sholat, golongan A yang suka bikin onar lebih baik kutusuk saja agar Tuhan lebih sayang padaku dan siapa tahu saya di tempatkan di surga, syukur-syukur bisa jadi raja duri di surga". Itu semua takkan dilakukannya, kewajiban sekaligus haknya adalah menusuk siapa saja yang menginjaknya. Karena tugasnya menusuk itulah eksistensi dirinya tetap terjaga, ia akan tetap di juluki duri. Coba bayangkan bila duri itu over acting, tidak lagi menusuk melainkan memijat apakah ia akan tetap disebut duri, tentu tidak.

Kita mesti belajar pada duri, pada alam sekitar, yang kadang kita tak pernah memikirkan mengapa ia, benda-benda disekitar kita, itu ada dan mengapa pula tugasnya musti begitu. Menolong haruslah totalitas. Jangan mempertanyakan siapa dia, golongan apa, pangkatnya, anaknya apa ada yang ganteng atau cantik gak? Kalau kita mampu menolong, tolonglah! Sejatinya orang yang datang meminta pertolongan pada diri kita tak lain juga tengah digerakkan kehendaknya oleh Allah untuk merengek pada pertolongan-Nya yang kebetulan kita lah yang dipinjami pertolangan-Nya itu. Kita harus sadar bahwa apa yang kita berikan, kerjakan adalah hanya sebuah lantaran, kita tak pernah murni bahwa itu adalah hasil usaha kita. Segalanya ada pengaturnya, ada penggeraknya. Ibarat obor: api yang dikeluarkan bukanlah hasil nyalanya uceng, sumbu. Tetapi bersumber dari minyak yang tak kelihatan itu, yang berada di bumbungnya.

Belajar dari lebaran, adalah belajar dari alam, obor, perilaku manusia yang benar-benar pada waktu itu mempunyai hati yang jembar, lapang, dan andhap asor, rendah hati.

Lebaran, menurut penulis, tak sepadan jika diartikan dengan makna kemenangan. Menang dari apa? Apa kita berperang? Kalau ya, melawan siapa? Hawa nafsu! Hawa nafsu yang mana: makan minum, seks, atau nafsu bergunjing? Ah kayaknya kok tidak. Kita tak pernah melakukan peristiwa itu semua, tak pernah betul-betul berperang yang ada malah terkesan kita hanya memindahkan jam tayangnya saja. Di bulan biasa, makan seenaknya tak pernah kenal konsep waktu, waton doyan kita makan. Sedangkan di bulan Romadhon waktu makan kita atur tapi selera dan waton doyan tak kita atur. Nafsu kelamin pun begitu, hanya pindah jam tayang saja. Apalagi nafsu tidur..wow..malah terkesan Ramadhan itu bulan tidur. Bangun tidur... tidur lagi. Lantas dengan demikian berhari raya ini kita sebut sebagai hari kemenangan? Dari perspektif apa kita menyebutnya begitu? Apa kita menyebut hari raya idul fitri sebagai hari kemenangan hanya ikut-ikutan Kanjeng Nabi SAW ataukah kita telah merasakannya sendiri? Ingat, kita tak pernah menang karena kita belum pernah melakukan perang melawan diri kita. Diri ini layak disebut menang jika sudah mengalahkan diri kita juga, bukan orang lain.

Kalau toh kita masih ngeyel: hari ini hari kemenangan! Sumonggo, ok! Tak apa-apa. Menang dalam peperangan itu identik dengan pesta pora. Tengoklah tabiat raja-raja jika mendapatkan kemenangan: semalam suntuk bahkan bisa berminggu-minggu pesta pora, nanggap kledek atau hiburan yang lain, seolah kemenangan itu akan digenggam selamanya. Laku prihatin lenyap. Dan gejala itu terjadi di hari ini: habis solat Ied, beraneka ragam jenis makanan dan minuman tersedia. Entah ini bentuk pengagungan hari satu Syawal atau pengagungan terhadap nafsu. Wa Allahu a'lam.

Kalau dulu setelah solat Ied, umat Islam akan berbondong-bondong sungkem, silahturrahmi, ke sanak famili, ke rumah kyai atau ustad tetapi sekarang: agenda setelah makan-makan adalah mendatangi tempat hiburan, entah tempat pariwisata atau mall-mall yang menyuguhkan aneka hiburan yang dibalut dengan kata-kata "silahturrahhmi". Kata indah yang terkungkung kapitalisme dan hedonisme. Itulah gejala kemenangan yang kita teriakkan, silahkan pembaca merenungi gejala itu.

Sekali lagi mari kita berlebaran. Membuka pintu rumah kita untuk menerima tetangga-tetangga kita yang hendak bersilahturrahmi, meminta maaf pada kita dan sebaliknya kita juga selayaknya juga minta maaf. Allah adalah maha pengampun dan pasti akan memaafkan kesalahan hamba-Nya yang tulus meminta maaf. Seluas langit dan bumi kesalahan kita terhadap Allah maka ampunan Allah melebihi itu semua. Kasih-Nya mendahului murka-Nya. Allah bukan Tuhan pemarah, apalagi yang suka besengut. Ia tuhan yang murah senyum. Sungguh Engkau Maha Rahman dan Rahiim, tak ada duanya yang mampu menyamai sifat serta asma-Mu. Allahu akbar walillahi hilhamdu.

Lain halnya dengan manusia, meskipun kita tulus meminta maaf kadang masih dinilai yang enggak-engak, permintaan maaf kita di anggap hanya guyonan, gurauan. Bahkan untuk memberi maaf pun masih pikir-pikir. Yang jelas manusia itu mendahulukan prasangka buruknya dari pada baiknya. Lantas jangan putus asa dengan keadan tersebut, tuluslah meminta maaf biarkan Tuhan yang menilai, biarlah Ia menggerakan hati seeorang untuk memberi maaf. Bukankah dia yang muqolibal qulub, yang bikin molak-malikke ati?

Mari berlebaran. Menyiapkan diri kita yang lembah manah lan andhap asor (rendah hati, tawadhu') untuk membuka pintu hikmah dari Allah. Saling bermaaf-maafan. Tak ada keindahan jika tak diringi kebersamaan (ma'iyah). Lenyapkan sifat adigang adiguna (menyombongkan diri) songsong kehidupan secara spiritul dan sosial yang madani. Selamat berlebaran 1 Syawal 1430 H.

 

Khoirul Anwar

Mewakili crew redaksi buletin Mimbar Jumat Masjid  Baiturrahman kompleks POLRI, Gowok.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar