Senin, 19 April 2010

Di mana Do'a Kita??

DI MANA DO'A KITA?

 

Oleh : Wahib Maksum

 

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kapadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon epada-Ku, maka hebdaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" (Q.S Al-Baqorah:186)

 

Ketika melihat ayat di atas, Allah pasti mengabulkan permintaan hamba-Nya dengan tanpa batas, tanpa melihat apa yang diminta ataupun siapa yang meminta. Maka Allah memerintahkan untuk Istijab (memenuhi) perintah dan beriman kepada-Nya agar selalu dalam kebenaran. Artinya, apapun yang menjadi kebutuhan hamba, saat hamba memohan, pasti kebutuhan tersebut akan dipenuhi-Nya, bahkan seorang kafir-pun. Hanya saja betuk pemenuhan, perwujudan atau pengabulan do'a tersebut yang berbeda, ketika yang meminta adalah seorang muslim yang taat, dosanya sedikit, serta amal baiknya banyak sebagai bekal akhirat, maka apapun yang diminta akan terwujud, hingga hal yang luar biasa seperti yang terjadi sebagai mukjizat para Nabi, karamah para wali dan ma'unah para ulama, pengkabulan tersebut juga merupakan nikmat dari Allah SWT. Bila yang memohon adalah orang mukmin yang durhaka, banyak dosa atau amal baiknya untuk ketinggian derajatnya di akhirat masih sedikit, maka seperti hal di atas, apapun yang diminta akan terwujud hanya saja dalam waktu yang lama atau sangat lama tergantung amal dan perbuatannya. Hal ini sesuai dengan hadist qudsi yakni:

"sesungguhnya seorang hamba ketika berdo'a kepada-Ku, maka dia tidak luput (pasti mendapatkan) salah satu dari tiga perkara, adakalanya berupa dosa yang diampuni baginya, atau kebaikan yang menjadi simpanannya atau kebaikan yang disegerakan baginya"

Dan jika yang berdo'a adalah orang kafir, maka sesuai dengan ayat di atas pula, apapun yang diminta akan diwujudkan, hanya saja bentuk pengkabulan itu sebagai Istidraj (kenukmatan yang diberikan agar semakin sakit saat kenikmatan itu hilang dan kenikmatan itu akan dimintai pertanggungjawaban).

Maka apabila kita ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia, dengan menemukan keagungan-Nya, merasakan keyakinan yang tinggi, segala kebutuhan terpenuhi hanya denagn meminta kepada-Nya, tak lepas dari kebenaran yang diisyaratkan dalam syri'at-Nya, jauh dari kesedihan dan rasa putus asa dan hal hina sejenisnya, hendaklah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan, ketaatan, dan memperbanyak amal kebjikan sebagai simpanan kehidupan abadi. Bukankah kita yakin, betapa orang shalih sering menemukan keajaiban dengan do'anya, kekebalan tubuh, mengobati npenyakit dan hal yang luar biasa? Kita juga dapat melakukan dan mendapatkannya, akan tetapi kita tidak ingin mendapat keajaiban tersebut dalam waktu yang lama apalagi hanya sebagai Istidraj. Kita ingin mendapatkan semuanya dan itu merupakan kenikmatan dan rahmat yang tidak menyebabkan kita celaka, maka perbanyaklah do'a, amal baik, istigfar dengan sesungguhnya serta selalu berbaik sangka kepada Allah, agar terhindar dari putus asa dan tidak meninggalkan ikhtiar guna menuai do'a dan kebutuhan kita. Karena Allah selalu memberikan sebab pada setiap ciptaan-Nya termasuk mengabulkan do'a hamba-hamba-Nya.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar