Senin, 19 April 2010

Membangun Moral di Abad Global

Membangun Moral di Abad Global

 

Oleh : Jalaludin


if religion without morality lacks a solid earth to walk on, morality without religion lacks a wide heaven to breath in”.(Jika agama tanpa moralitas, kekurangan tanah untuk berjalan diatasnya, jika moralitas tanpa agama, kekurangan surga langit untuk bernafas).


Kata-kata Prof. John Oman yang di kutip oleh Dr. Faisal Ismail diatas mengajak kepada kita untuk menilik kembali terhadap pandangan kita yang selama ini kita pegang khususnya dalam hal memperbincangkan dalam kemajuan suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa tak hanya di ukur melalui patokan kemajuan teknologi dan GNP-nya semata tetapi juga harus dilihat kelakuan masyarakatnya seperti yang tertulis dalam syairnya Ahmad Syangu, “sesungguhnya suatu bangsa terletak pada akhlaknya, jika akhlak mereka bejat hancurlah bangsa itu”.


Kemajuan terknologi di segala bidang memang telah mempermudah kerja manusia tetapi jika tak ada kontrol, kemajuan teknologi malah menyeret masyarakatnya kedalam berbagai jebakan krisis seperti krisis kejiwaan, krisis ekologi, krisis kejujuran dan masih banyak lagi. Dampaknya kini mulai muncul seperti kasus bunuh diri, membunuh bayi-bayi maupun gejala-gejala depresi berat yang menyelimuti masyarakat diabad global adalah tanda dari kehampaan jiwa masyarakat modern.


Di lain pihak, bahaya kerusakan alam semakin mengkhawatirkan. Tanah longsor, banjir bandang, angin ribut, gempa bumi yang akhir-akhir ini marak terjadi di tanah air menambah “kengeluan” bangsa ini.
Global warming merupakan ancaman serius bagi segenap makhluk di muka bumi. Dalam kurun waktu seratus tahun terakhir suhu bumi akan meningkat 0.7 derajat celcius. Para ahli memprediksikan, jika tak ada upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, pada tahun 2100 suhu bumi akan meningkat hingga 0,8 derajat celcius. Padahal jika kenaikan suhu melebihi dua derajat celcius maka akan terjadi kepunahan banyak spesies dan ekosistem. Salah satu penyebab terjadi perubahan iklim global di Indonesia adalah kebakaran hutan dan lahan serta semakin rusaknya hutan akibat pembalakan liar. (Tempo, 30 april 2006)


Semua fenomena di atas semakin meyakinkan akan kebenaran firman Tuhan bahwa ’Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia ”(Q.S Ar-Rum: 41). Kalu kita cermati dengan seksama dari pengalaman hidup maupun yang kita kaji dari Al Qur’an, bahwa kerusakan alam merupakan akibat kerakusan manusia yang tak arif dalam mengeksploitasi kekayan alam.
Kerakusan adalah urusan moral yang tersimpan dalam sanubari masing-masing orang. Moral yang menjabat “chek and balance” telah mengalami kemerosotan yang menyebabkan penodaan terhadap harkat kemanusiaan (human dignity) sehingga pemiliknya terperosok sebagai budak penyembah nafsu.Walau kita tahu bahwa abad ini adalah abadnya orang-orang pintar tetapi kehidupanya jauh dari tanda-tanda orang berilmu. Mengapa demikian? Allah menjawabnya ,”Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Allah memberi sesat dengan ilmumya dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas kepalanya itu. (Q.S AL Jatsiyah:23)

 

Sebab utama merosotnya moral adalah hilangnya keyakinan (iman) terhadap Tuhan, hari akhir dan balasan surga-neraka. Agama yang telah di berikan Tuhan sebagai pembimbing di tinggalkan begitu saja, sehingga norma-norma yang mengatur perilaku manusia dilupakan. Dosa telah dianggap ringan dan hal yang biasa, Tuhan hanyalah cerita tahayul dan dianggap sebagai sosok yang di gunakan untuk menakut-nakuti anak kecil belaka. Hingga timbullah pandangan bahwa takkan ada lagi kehidupan sesudah mati, tak ada lagi balasan surga neraka, seperti yang dikatakan Klein, “dengan membebaskan diri dari rasa takut terhadap ancaman neraka, maka lepas pula harapan akan kenikmatan surga, orang hidup, mati, dan selesailah sudah”. Pernyatan itu di tepis Allah, “Dan mereka berkata “tak ada kehidupan lain, melainkan kehidupan di muka bumi ini. Kita mati dan hidup tidak ada yang memusnahkan melainkan waktu. Sesungguhnya mereka tidak tahu tentang hal itu, mereka hanya menduga-duga saja”.


Lalu bagaimana kita menyelamatkan moral kita yang selama ini tercecer di lembah hiruk pikuknya nafsu sekaligus mengembalikan “Tuhan” kita yang telah kita “hilangkan” tersebut? jawabannya adalah seperti yang telah di katakana Prof. Jaques Barzun, “restore god to the fullness of his reality” (kembalikan Tuahan kepada kedudukanNya yang sesungguhnya). Dengan mengacu pada ucapan Jaques berarti kita harus menghadirkan Tuhan dalam segala hal dalam menapaki proses kehidupan kita, menghadirkan hakikat Tuhan bahwa Dialah sebagai inspirasi atau patokan moral hidup.

 

Kalau memang “Tuhan” harus hadir dalam segala dimensi kehidupan ini maka salah satu jalan yang harus di tempuh adalah membentangkan agama sebagai jalan bagi kita untuk lebih dekat atau lebih mengena rasa ketuhanan kita. Mengapa harus agama yang kita pilih sebagai salah satu cara bagi kita untuk menghadirkan Tuhan atau sumber moral kita ?


Memperbincangkan masalah sumber moral yang sesuai dengan perilaku manusia sekaligus tak pernah kering adalah agama sebagai jawabannya, karena agama merupakan jalan penyampaian moral tuan yang diturunkan kepada makhluknya. Moral yang bersumber dari agama akan menjadi kuat dan tahan terhadap berbagai benturan zaman sehingga agama akan tetap memposisikan “manusia sebagai manusia”.


Adalah pasti bahwa agama Islam merupakan sumber nilai-nilai moral Islam. Nilai moral dalam Islam sangat di junjung tinggi dan ditempatkan pada kursi agung. Karena moral merupakan elemen penting dalam membentuk peradaban. Nabi Muhammad di utus ke dunia tak sebatas menyampaikan risalah ketauhidan semata melainkan menyampaikan pesan-pesan moral yang hasanah. (“tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan rahmat bagi semesta alam. Aku di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia.)


Jelaslah bahwasannya misi Muhammad tidak sekedar mengajarkan ritual-ritual ibadah, do’a atau menyuruh jihad, melainkan sebuah misi yang sangat mulia yakni menghijrahkan manusia dari kesesatan menuju kebenararan, dari sifat barbarisme menuju sikap tawadhu’, dari sikap rakus menuju sikap qona’ah dan ikhlas. Menjadikan manusia kembali kefitrohnya yang di ridoi Tuhan.


Moral islam menekankan aspek penyucian hati karena pada hakekatnya hati merupakan pusat inspirasi dan motivasi akal untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan terhadap sesuatu hal yang akhirnya melahirkan suatu pandangan (persepsi). Manusia yang pandangan hidupnya tidak jelas atau mengambang maka cenderung perilakunya pun nampak amburadul dan bingung. Keyakinan yang tidak mantap akan melahirkan sosok-sosok manusia kelas rendah, munafik, pragmatis, hedonis dan sekuler. (Dr. Muhammad Tholib, Melacak kekafiran berfikir).


Hal ini pernah terjadi pada bangsa Arab saat Islam belum datang. Arab jahiliyah kebanyakan kaum pengembara Badui yang hidupnya nomaden, memiliki jiwa yang kasar, kering dari “air ketauhidan”, suka merampok, tak tahu halal haram, hanya berorientasi pada kesenangan yang sekejap sehingga Alqur’an mengatakan orang-orang ini munafik dan tak bertuhan.


Tetapi setelah Islam datang keadaan berubah, mereka menjadi santun, terbimbing kejalan yang benar dan ditinggikan kedudukannya yang semula bersifat hewaniyah kepada kedudukan yang mulia.


Itulah Islam yang lebih mengedepankan pembentukan moral di banding dengan hal lain. Karena kita tahu bahwa moral merupakan penentu ”warna” peradaban manusia. Jika bangsa yang besar, maju dalam bidang keduniaan saja tetapi moral bangsanya amburadul maka sudah dapat di pastikan bangsa itu akan segera runtuh.


  Islam di datangkan untuk memperbaiki peradaban manusia oleh karena itu Islam adalah agama peradaban dan tak menentang peradaban suatu bangsa manapun selama peradaban itu memberi manfaat kepada manusia dan mengangkat harkat, martabat manusia. Namun jika peradaban itu ternyata tak sesuai dengan fitrah manusia dan men-dehumanisasi, maka Islam akan melawan, karens Islam adalah agama perlawanan.Wa Allahua’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar